Jumat, 01 April 2011

GALENIKA

2.1 Pengertian Galenika
Sediaan galenik adalah sediaan yang di buat dari bahan baku hewan atau tumbuhan yang di ambil sarinya.
Zat-zat yang tersari (berkhasiat) biasanya terdapat dalam sel-sel bagian tumbuh-tumbuhan yang umumnya dalam keadaan kering.Cairan penyari masuk kedalam zat-zat berkhasiat utama dari pada simplisia yang akan di ambil sarinya,kemudian, zat berkhasiat tersebut akan terbawa larut dengan cairan penyari, setelah itu larutan yang mengandung zat berkhasiat dipisahkan dari bagian simplisia lain yang kurang bermanfaat.
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pembuatan sediaan galenik
1. Derajat kehalusan
Derajat kehalusan ini harus di sesuaikan dengan mudah atau tidaknya obat yang terkandung tersebut untuk disari. Semakin halus simplisianya itu akan mempermudah proses penyarian, ataupun sebaliknya.
2. Temperatur suhu dan lamanya waktu
Suhu harus di sesuaikan dengan sifat dari obat, apakah bmudah menguap atau tidak, mudah tersari atau tidak
3. Bahan penyari dan cara menyari
Setiap simplisia atau bahan obat mempunyai cara dan bahan penyari yang berbeda-beda, Oleh karena itu cara ini harus di sesuaikan dengan sifat kelarutan obat dan daya serap bahan penyari ke dalam simplisia.
4. Konsentrasi/kepekatan
Pada umumnya untuk menentukan penggunaan cairan penyari mengacu/ memperhatikan beberapa faktor antara lain:
1. Mempunyai kelarutan zat dalam menstrum
2. Tidak menyebabkan simplisia menjasi rusak atau hilang zat berkhasiatnya
3. Harga yang ekonomis
4. Jenis sediaan yang akan di buat
Bentuk-bentuk sediaan galenik :
1. Hasil Penarikan : Extracta, Tinctura, Decocta / Infusa
2. Hasil Penyulingan/ pemerasan : Aqua aromatika, olea velatilia (minyak menguap), olea pinguia (minyak lemak)
3. Syrup.

2.2 Penarikan ( Extraction )
Extractio adalah cara menarik satu atau lebih zat-zat dari bahan asal yang umumnya zat berkhasiat tersebut tertarik dalam keadaan (khasiatnya) tidak berubah.
Istilah extractio hanya dipergunakan untuk penarikan zat-zat dari bahan asal dengan menggunakan cairan penarik/ pelarut. Cairan penarik yang dipergunakan disebut menstrum, ampasnya disebut marc atau faeces. Cairan yang dipisahkan disebut Macerate Liquid, Colatura, Solution, Perkolat.
Umumnya extractio dikerjakan untuk simplisia yang mengandung zat berkhasiat atau zat-zat lain untuk keperluan tertentu.. Zat-zat berkhasiat tersebut antara lain alkaloida, glukosida, damar, olea, resina, minyak atsiri, lemak.
Selain itu juga jenis-jenis gula, zat pati, zat lendir, albumin, protein, pectin, selulosa yang pada umumnya mempunyai daya larut dalam cairan pelarut tertentu dimana sifat-sifat kelarutan ini dimanfaatkan dalam extractio.
Tujuan utama extractio adalah :untuk mendapatkan zat-zat berkhasiat pengobatan sebanyak mungkin dari zat-zat yang tidak berfaedah, supaya lebih mudah digunakan dari pada simplisia asal. Begitu juga penyimpanan dan tujuan pengobatannya terjamin sebab pada umumnya simplisia terdapat dalam keadaan tercampur yang memerlukan cara-cara penarikan dan cairan-cairan penarik tertentu yang nantinya akan menghasilkan sediaan galenik sesuai dengan pengolahannya.
Suhu penarikan juga sangat mempengaruhi hasil penarikan, suhu penarikan untuk :
• Maserasi : 15 – 25 0C
• Digerasi : 35 – 45 0C
• Infundasi : 90 – 98 0C
• Memaksak : Mendidih
Dalam beberapa hal sebelum sediaan yang dimaksud dibuat, simplisia perlu diolah terlebih dahulu, Misalnya mengawal lemakkannya seperti: Strychni, Secale cornuti; atau menghilangkan zat pahitnya seperti : Lichen islandicus. Ini dilakukan supaya zat-zat yang tidak berguna / merusak tidak ikut tertarik bersama-sama dengan zat-zat yang berkhasiat.
Cara menghilangkan isi simplisia yang tidak berguna :
1. Dengan memakai bahan pelarut yang tepat dimana bahan berkhasiatnya mudah larut, sedangkan yang tidak berguna sedikit atau tidak larut dalam cairan penyari tersebut.
2. Dengan menarik / merendam pada suhu tertentu dimana bahan berkhasiat terbanyak larutnya.
3. Dengan menggunakan jarak waktu menarik yang tertentu dimana bahan berkhasiat dari sipmlisia lebih banyak larutnya, sedangkan bahan yang tidak berguna sedikit atau tidak larut.
4. Dengan memurnikan / membersihkan memakai cara-cara tertentu baik secara ilmu alam maupun ilmu kimia.

Jadi kesimpulan dalam extractio ini adalah memilih salah satu cara penarikan yang tepat dengan cairan yang pantas dan memisahkan ampas dengan hasil penarikan yang akan menghasilkan sebuah preparat galenik yang dikehendaki.
Simplisia yang dipergunakan umumnya sudah dikeringkan, kadang-kadang juga yang segar. Untuk kemudahan simplisia yang kering ini dilembabkan terlebih dahulu / di maserer dalam batas waktu tertentu.
Disamping itu simplisia ini ditentukan derajat halusnya untuk memperbesar atau memperluas permukaannya, sehingga menyebabkan proses difusi dari zat-zat berkhasiat lebih cepat dari pada melalui dinding-dinding sel yang utuh (proses osmose).





2.3 Cairan-cairan Penarik
Untuk menentukan cairan penarik apa yang akan digunakan harus diperhitungkan betul-betul dengan memperhatikan beberapa faktor, antara lain :
1. Kelarutan zat-zat dalam menstrum
2. Tidak menyebabkan nantinya zat-zat berkhasiat tersebut rusak atau akibat-akibat yang tidak dikehendaki (perubahan warna, pengendapan, hidrolisa)
3. Harga yang murah
4. Jenis preparat yang akan dibuat

Adapun macam-macam cairan penyari, antara lain :
1. Air
Pada suhu kamar adalah pelarut yang baik untuk bermacam-macam zat misalnya : garam-garam alkaloida, glikosida, asam tumbuh-tumbuhan, zat warna dan garam-garam mineral.
Keburukan dari air adalah banyak jenis zat-zat yang tertarik dimana zat-zat tersebut meripakan makanan yang baik untuk jamur atau bakteri dan dapat menyebabkan mengembangkan simplisia sedemikian rupa, sehingga akan menyulitkan penarikan pada perkolasi.
2. Etanol
Umumnya pelarut yang baik untuk alkaloida, glikosida, damar-damar, minyak atsiri tetapi bukan untuk jenis-jenis gom, gula dan albumin.
Etanol juga menyebabkan enzym-enzym tidak bekerja termasuk peragian dan menghalangi perutumbuhan jamur dan kebanyakan bakteri. Sehingga disamping sebagai cairan penyari juga berguna sebagai pengawet. Campuran air-etanol (hidroalkoholic menstrum) lebih baik dari pada air sendiri.
3. Glycerine
Cairan menstrum untuk penarikan simplisia yang mengandung zat samak. Gliserin adalah pelarut yang baik untuk tanin-tanin dan hasil-hasil oksidanya, jenis-jenis gom dan albumin juga larut dalam gliserin. Karena cairan ini tidak atsiri, tidak sesuai untuk pembuatan ekstrak-ekstrak kering.


4. Eter
Sangat mudah menguap sehingga cairan ini kurang tepat untuk pembuatan sediaan untuk obat dalam atau sediaan yang nantinya disimpan lama.
5. Solvent hexane
Pelarut yang baik untuk lemak-lemak dan minyak-minyak. Biasanya dipergunakan untuk menghilangkan lemak dari simplisia yang mengandung lemak-lemak yang tidak diperlukan, sebelum simplisia tersebut dibuat sediaan galenik.
6. Acetonum
Tidak dipergunakan untuk sediaan galenik obat dalam, pelarut yang baik untuk bermacam-macam lemak, minyak atsiri, damar. Baunya kurang enak dan sukar hilang dari sediaan. Dipakai misalnya pada pembuatan Capsicum oleoresin (N.F.XI)
7. Chloroform
Tidak dipergunakan untuk sediaan dalam, karena efek farmakologinya. Bahan pelarut yang baik untuk basa alkaloida, damar, minyak lemak dan minyak atsiri.

2.4 Metode Penarikan
Metode penarikan yang sering digunakan adalah :
a) Maserasi
Adalah cara penarikan sari dari simplisia dengan cara merendam simplisia tersebut dalam cairan penyari pada suhu biasa yaitu pada suhunya 15-25 0C. Maserasi juga merupakan proses pendahuluan untuk pembuatan secara perkolasi.
Kecuali di nyatakan lain masersi dilakukan dengan cara sebagai berikut :
Sepuluh bagian simplisia atau campuran simplisia denggan derazat halus yang cocok di masukan ke dalam sebuah bejana,lalu di tuangi 75 bagian cairan penyari, di tutup dan di biarkan selama lima hari terlindung cahaya dam sambil sering di aduk.setelah lima hari cairan tersebut di serkai, diperas,dicuci ampasnya dengan cairan penyari secukupnya hingga di peroleh 100 bagian. Lalu maserat dipindah ke dalam bejana yang tertutup dan di biarkan di tempat sejuk, terlindung dari cahaya selama dua hari. Dengan demikian maserat sudah bisa di saring. Kemudian maserat di suling atau di uapkanpada tekanan rendah dalam suhu tidah lebih dari 50° C hingga konsistensi yang di kehendaki.
b) Digerasi
Cara penarikan simplisia dengan merendam simplisia dengan cairan penyari pada suhu 35o – 45o. Cara ini sekarang sudah jarang dilakukan karena disamping membutuhkan alat-alat tertentu juga pada suhu tersebut beberapa simplisia menjadi rusak dan hilang zat berkhasiat utamanya.
Disinilah banyak para ilmuan yang putus asa dalam percobaan mereka yang gagal karena tidak memperhitungkan keuntungan dan kerugian dari pada metode digerasi tersebut

c) Perkolasi
Perkolasi ialah suatu cara penarikan, memakai alat yang disebut perkolator, yang simplisianya terendam dalam cairan penyari dimana zat-zatnya terlarut dan larutan tersebut akan menetes secara beraturan keluar sampai memenuhi syarat-syarat yang telah ditetapkan.
Cara-cara perkolasi :
1. Perkolasi biasa
Simplisia yang telah ditentukan derajat halusnya direndam dengan cairan penyari, masukkan kedalam perkolator dan diperkolasi sampai didapat perkolat tertentu. Untuk pembuatan tingtur disari sampai diperoleh bagian tertentu, untuk ekstrak cair disari samapi tersari sempurna. Perkolasi umumnya digunakan untuk pengambilan sari zat-zat yang berkhasiat keras. Gambar Perkolator :

perkolator
perkolasi biasa
perkolasi kontinyu


2. Perkolasi bertingkat, reperkolasi, fractional percolation
Reperkolasi adalah suatu cara perkolasi biasa, tetapi dipakai beberapa perkolator. Dengan sendirinya simplisia di bagi-bagi dalam beberapa porsi dan ditarik tersendiri dalam tiap perkolator. Biasanya simplisia dibagi dalam tiga bagian dalam tiga perkolator, perkolat-perkolat dari tiap perkolator diambil dalam jumlah yang sudah ditetapkan dan nantinya dipergunakan sebagai cairan penyari untuk perkolasi berikutnya pada perkolator yang kedua dan ketiga.
3. Perkolasi dengan tekanan, pressure percolation
Digunakan jika simplisia mempunyai derajat halus yang sangat kecil sehingga cara perkolasi biasa tidak dapat dilakukan. Untuk itu perlu ditambah alat penghisap supaya perkolat dapat turun ke bawah.Alat tersebut dinamakan diacolator.
4. Perkolasi persambungan, continous extraction, memakai alat soxhlet.

2.5 Macam-macam sediaan galenika
Sediaan galenika dapat digolongkan berdasarkan cara pembuatanya sebagai berikut :
a. Tingtur ( Tinctura )
Adalah sediaan cair yang dibuat dengan cara maserasi atau perkolasi simplisia nabati atau hewani atau dengan cara melarutkan senyawa kimia dalam pelarut yang tertera pada masing-masing monografi. Kecuali dinyatakan lain, tingtur dibuat menggunakan 20% zat berkhasiat dan 10 % untuk zat berkhasiat.
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat, terlindung dari cahaya, di tempat sejuk.
Sediaan tingtur harus jernih, untuk bahan dasar yang mengandung harsa digunakan cairan penyari etanol 90% dan pada umumnya cairan penyari adalah etanol 70%.
Tingtur yang mengandung harsa / damar adalah Mira Tinctura, Asaefoetida Tinctura, Capsici Tinctura, Tingtur Menyan.




Pembagian Tinctur :
1. Menurut Cara Pembuatan
A. Tingtur Asli : Adalah tingtur yang dibuat secara maserasi atau perkolasi.
Contoh :
Tingtur yang dibuat secara maserasi
1. Opii Tinctura FI III
2. Valerianae Tinctura FI III
3. Capsici Tinctura FI II
4. Myrrhae Tinctura FI II
5. Opii Aromatica Tinctura FI III
6. Polygalae Tinctura Ext. FI 1974
7. Dan lain-lain

Tingtur yang dibuat secara perkolasi, contoh :
1. Belladonae Tinctura FI III
2. Cinnamomi Tinctura FI III
3. Digitalis Tinctura FI III
4. Lobeliae Tinctura FI II
5. Strychnini Tinctura FI II
6. Ipecacuanhae Tinctura Ext. FI 1974

B. Tingtur Tidak Asli (Palsu) : Adalah tingtur yang dibuat dengan jalan melarutkan bahan dasar atau bahan kimia dalam cairan pelarut tertentu.Contoh :
1. Iodii Tinctura FI III
2. Secalis Cornuti Tinctura FI III







2. Menurut Kekerasan (perbandingan bahan dasar dengan cairan penyari)
A. Tingtur Keras : Adalah tingtur yang dibuat menggunakan 10 % simplisia yang berkhasiat keras. Contoh :
1. Belladonae Tinctura FI III
2. Digitalis Tinctura FI III
3. Opii Tinctura FI III
4. Lobeliae Tinctura FI II
5. Stramonii Tinctura FI II
6. Strychnin Tinctura FI II
7. Ipecacuanhae Tinctura Ext. FI 1974

B. Tingtur Lemah : Adalah tingtur yang dibuat menggunakan 20 % simplisia yang tidak berkhasiat keras. Contoh :
1. Cinnamomi Tinctura FI III
2. Valerianae Tinctura FI III
3. Polygalae Tinctura Ext. FI 1974
4. Myrrhae Tinctura FI II

3. Berdasarkan Cairan Penariknya
a. Tingtura Aetherea, jika cairan penariknya adalah aether atau campuran aether dengan aethanol. Contoh : Tingtura Valerianae Aetherea.
b. Tingtura Vinosa, jika cairan yang dipakai adalah campuran anggur dengan aethanol. Contoh : Tinctura Rhei Vinosa (Vinum Rhei).
c. Tinctura Acida, jika ke dalam aethanol yang dipakai sebagai cairan penarik ditambahkan suatu asam sulfat. Contoh : pada pembuatan Tinctura Acida Aromatica.





d. Tinctura Aquosa, jika sebagai cairan penarik dipakai air, contoh : Tinctura Rhei Aquosa.
e. Tinctura Composita, adalah tingtur yang didapatkan dari jika penarikan dilakukan dengan cairan penarik selain aethanol hal ini harus dinyatakan pada nama tingtur tersebut, misalnya campuran simplisia, contoh : Tinctura Chinae Composita.
Contoh sediaan tinctura :

1. Tingtur Kina (Chinae Tinctura)
2. Tingtur Ipeka
(Ipecacuanhae Tinctura)
3. Tingtur Gambir (Catechu Tinctura)
4. Tingtur Poligala (Polygalae Tinctura)
5. Tingtur Ratania (Ratanhiae Tinctura)
6. Tingtur Stramonii
(Stramonii Tinctura)
7. Tingtur Strichni (Strychni Tinctura)
8. Tingtur Kemenyan
( Benzoes Tinctura )
9. Tingtur Lobelia (Lobeliae Tinctura)
10. Tingtur Mira (Myrrhae Tinctura)
11. Tingtur Jeruk Manis (Aurantii Tinctura)
12. Tingtur Cabe (Capsici Tinctura)
13. Tingtur Valerian (Valerianae Tinctura)
14. Tingtur Kayu Manis
(Cinnamomi Tinctura)
15. Tingtur Digitalis ( Digitalis Tinctura)
16. Tingtur Iodium (Iodii Tinctura)
17. Tingtur Opium (Tinctura Opii)
18. Tingtur Opium wangi
(Opii Tinctura Aromatica)
19. Tingtur Sekale Cornutum
(Secalis Cornuti Tingtur)
20. Tingtur Beladon
(Belladonnae Tinctura

b. Ekstrak ( Extracta )
Extrak adalah sediaan yang dapat berupa kering,kental dan cair, dibuat dengan menyari simplisia nabati atau hewani menurut cara yang sesuai yaitu maserasi, perkolasi, atau penyeduhan dengan air mendidih.Sebagi cairan penyari digunakan air,eter,atau campuran etanol dan air. Penyarian dilakukan di luar pengaruh cahaya matahari langsung.penyarian dengan campuran etanol dan air dilakukan dengan cara maserasi atau perkolasi.penyarian dengan eter dilakukan dengan cara perkolasi.penyarian dengan air dilakukan dengan cara maserasi, perkolasi,atau disiram dengan air mendidih.
Pembuatan sediaan extrak dimaksudkan agar zat berkhasiat yang terdapat di dalam simplisia terdapat dalam bentuk yang mempunyai kadar yang tinggi dan hal ini memudahkan zat berkhasiat dapat di atur dosisnya.Dlam sediaan extrak dapat di standardisasikan kadar zat berkhasiat sedangkan kadar zat berkhasiat dalam simplisia sukar di dapat yang sama. Beda penyarian pada extrak dengan tingtur ialah pada extrak di sari sampai zat berkhasiat dalam simplisia habis sedangkan pada tingtur hanya sesbagian zat berkhasiat tersari.
Contoh-contoh extrak:

a. Extrak Belladonnae
b. Extrak Hyoscyami
c. Extrak Timi
d. Extrak Strici
e. Extrak Pule pandak
f. Extrak Kelembak
g. Extrak Straoinium
h. Extrak Frangulae
i. Extrak Jadam
j. Extrak Kecambah
k. Extrak Hati
l. Extrak Kina
m. Extrak Kola
n. EXtrak Opium dll.


c. Infus ( Infusa )
Adalah sediaan cair yang dibuat dengan menyari simplisia nabati dengan air pada suhu 90 0C selama 15 menit.
Cara Pembuatan :
Campur simplisia dengan derajat halus yang cocok dalam panci dengan air secukupnya, panaskan di atas tangas air selama 15 menit terhitung mulai suhu mencapai 90 0C sambil sekali-sekali di aduk. Serkai selagi panas melalui kain flanel, tambahkan air panas secukupnya melalui ampas hingga diperoleh volume infus yang dikehendaki.







Hal-hal yang harus diperhatikan untuk membuat sediaan infus :
1. Jumlah simplisia
2. Derajat halus simplisia
3. Banyaknya ekstra air
4. Cara menyerkai
5. Penambahan bahan-bahan lain
• untuk menambah kelarutan
• untuk menambah kestabilan
• untuk menghilangkan zat-zat yang menyebabkan efek lain.

d. Air Aromatik ( Aqua Aromatica )
Adalah larutan jenuh minyak atsiri atau zat-zat yang beraroma dalam air. Diantara air aromatika, ada yang mempunyai daya terapi yang lemah, tetapi terutama digunakan untuk memberi aroma pada obat-obat atau sebagai pengawet.
Air aromatika harus mempunyai bau dan rasa yang menyerupai bahan asal, bebas bau empirematic atau bau lain, tidak berwarna dan tidak berlendir.
Cara pembuatan :
1. Larutkan minyak atsiri sejumlah yang tertera dalam masing-masing monografi dalam 60 ml etanol 95%.
2. Tambahkan air sedikit demi sedikit sampai volume 100 ml sambil dikocok kuat-kuat.
3. Tambahkan 500 mg talc, kocok, diamkan, saring.
4. Encerkan 1 bagian filtrat dengan 39 bagian air.

Etanol disini berguna untuk menambah kelarutan minyak atsiri dalam air. Talc berguna untuk membantu terdistribusinya minyak dalam air dan menyempurnakan pengendapan kotoran sehingga aqua aromatik yang dihasilkan jernih.
Aqua aromatik yang diperoleh sebagai hasil samping pembuatan minyak atsiri secara destilasi dapat dicegah pembusukannya dengan cara mendidihkan dalam wadah tertutup rapat yang tidak terisi penuh di atas penangas air selama 1 jam.
Pemerian aqua aromatika : cairan jernih, atau agak keruh, bau dan rasa tidak boleh menyimpang dari bau dan rasa minyak atsiri asal.
Syarat untuk resep : jika air aromatik keruh, kocok kuat-kuat sebelum digunakan.
Penyimpanan : dalam wadah terttutup rapat, terlindung dari cahaya, di tempat sejuk.
Khasiat : zat tambahan.
Air aromatika yang tertera dalam FI II ada 3 yaitu :
1. Aqua Foeniculi, adalah larutan jenuh minyak adas dalam air
Pemerian, penyimpanan sama seperti aqua aromatik.
Syarat untuk resep : seperti aqua aromatik dan sebelum digunakan harus disaring lebih dahulu.
2. Aqua Menthae Piperitae = air permen, adalah larutan jenuh minyak permen dalam air.
3. Aqua Rosae = air mawar, adalah larutan jenuh minyak mawar dalam air.
Pemerian, penyimpanan dan syarat untuk resep sama seperti aqua aromatika.
Khusus untuk aqua foeniculi jangan disimpan ditempat sejuk karena etanol akan menghablur, jadi disimpan pada suhu kamar, kalau keruh kocok dulu sebelum digunakan. Aqua foeniculi bila menghablur harus dipanaskan pada suhu 25 0C dan kemudian dikocok kuat-kuat, sebelum digunakan harus disaring.

e. Minyak Lemak (Olea Pinguia)
Adalah campuran senyawa asam lemak bersuku tinggi dengan gliserin (gliserida asam lemak bersuku tinggi)
Cara-cara mendapatkan minyak lemak
1. diperas pada suhu biasa, misalnya : oleum arachidis, oleum olivae, oleum ricini
2. diperas pada suhu panas, misalnya : oleum cacao, oleum cocos
Syarat-syarat untuk minyak lemak antara lain :
1. Harus jernih, yang cair harus jernih, begitupun yang padat sesudah dihangatkan (diatas suhu leburnya) tidak boleh berbau tengik.
2. Kecuali dinyatakan lain harus larut dalam segala perbandingan dalam CHCl3, Eter dan Eter minyak tanah.
3. Harus memenuhi syarat-syarat minyak mineral, minyak harsa dan minyak-minyak asing lainnya, senyawa belerang dan logam berat.
Cara identifikasi minyak lemak :
Pada kertas meninggalkan noda lemak
Penggunaan minyak lemak :
1. Sebagai zat tambahan
2. Sebagai pelarut
3. Sebagai obat
Minyak lemak dibagi dalam dua golongan, yaitu :
1. Minyak-minyak yang dapat mengering misalnya : oleum lini, oleum ricini.
2. Minyak-minyak yang tidak dapat mengering, misalnya : oleum arachidis, oleum olivarum, oleum amygdalarum, oleum sesami.
Penyimpanan minyak lemak :
Kecuali dinyatakan lain, harus disimpan dalam wadah tertutup baik, terisi penuh, terlindung dari cahaya.
Contoh-contoh minyak lemak :

1. Minyak kacang ( Oleum Arachidis )
2. Minyak coklat ( Oleum Cacao )
3. Minyak kelapa ( Oleum Cocos )
4. Minyak ikan ( Oleum Iecoris Aselli )
5. Minyak Lini ( Oleum Lini )
6. Minyak zaitun ( Oleum olivae )
7. Minyak jarak ( Oleum ricini )
8. Minyak Wijen ( Oleum sesami )
9. Minyak Kelapa Murni (Oleum Cocos purum )
10. Minyak Tengkawang (Oleum Shoreae)
11. Minyak Pala (Oleum Myristicae expressum )
12. Minyak Jagung ( Oleum Maydis )
13. Minyak Kaulmogra/ Minyak Hidnokarpi ( Oleum Hydnocarpi )

f. Minyak Atsiri (Olea Volatilia)
Minyak atsiri disebut juga minyak menguap atau minyak terbang. Olea Volatilia adalah campuran bahan-bahan berbau keras yang menguap, yang diperoleh baik dengan cara penyulingan atau perasan simplisia segar maupun secara sintetis. Minyak atsiri diperoleh dari tumbuh-tumbuhan. Contoh : daun, bunga, kulit buah, buah atau dibuat secara sintetis.




Sifat-sifat minyak atsiri :
1. Mudah menguap
2. Rasa yang tajam
3. Wangi yang khas
4. Tidak larut dalam air, larut dalam pelarut organik.
5. Minyak atsiri yang segar tidak berwarna, sedikit kuning muda.
Warna coklat, hijau ataupun biru, disebabkan adanya zat-zat asing dalam minyak atsiri tersebut. Misalnya : Minyak kayu putih (Oleum Cajuputi) yang murni tidak berwarna. Warna hijau yang ada seperti yang terlihat diperdagangan karena adanya : klorophyl dan spora-spora Cu (tembaga). Warna kuning atau kuning coklat terjadi karena adanya penguraian.
Pemerian :
• Cairan jernih
• Bau seperti bau bagian tanaman asal.
• Penyimpanan : dalam wadah tertutup rapat, terisi penuh, terlindung dari cahaya dan ditempat sejuk.
Identifikasi :
1. teteskan 1 tetes minyak di atas air, permukaan air tidak keruh.
2. pada sepotong kertas teteskan 1 tetes minyak yang diperoleh dengan cara penyulingan uap tidak terjadi noda transparan
3. kocok sejumlah minyak dengan larutan NaCl jenuh volume sama, biarkan memisah, volume air tidak boleh bertambah.
Cara-cara mendapatkan/memperoleh minyak atsiri, antara lain :
1. Cara pemerasan yaitu cara yang termudah dan masih dapat dikatakan primitif. Cara ini hanya dapat dipakai untuk minyak atsiri yang mempunyai kadar tinggi dan untuk minyak atsiri yang mempunyai kadar tinggi dan minyak atsiri yang tidak tahan pemanasan. Contoh : minyak jeruk
2. Cara penyulingan ( destilasi).
Ada 2 cara penyulingan, yaitu:
1. Cara langsung ( menggunakan api langsung)
2. Cara tidak langsung ( destilasi uap)

3. Cara Enfleurage
Biasanya untuk minyak atsiri yang berasal dari daun bunga yang digunakan untuk kosmetik. Cara ini dapat digunakan untuk bahan bakal dengan kandungan minyak atsiri yang rendah dan tidak tahan pemanasan.

Syarat – syarat minyak atsiri :
1. Harus jernih, tidak berwarna, kalau perlu setelah pemanasan.Kejernihan dapat dibuktikan dengan cara meneteskan 1 tetes minyak atsiri keatas permukaan air, permukaan air tidak keruh. Minyak menguap umumnya tidak berwarna, hanya beberapa yang sesui dengan warna aslinya.
2. Mudah larut dalam Chloroform atau Eter.
3. Minyak atsiri yang diperoleh dari penyulingan uap harus bebas minyak lemak. Hal ini dibuktikan dengan cara meneteskan keatas kertas perkamen tidak meninggalkan noda transparan.
4. Harus kering, karena air akan mempercepat reaksi oksidasi sehingga minyak akan berwarna. Kekeringan dibuktikan dengan cara mengocok sejumlah minyak atsiri dengan larutan Natrium Klorida jenuh vbolume sama, biarkan memisah, volume air tidak boleh bertambah.
5. Bau dan rasa seperti simplisia.
Bau diperiksa dengan cara mencampurkan satu tetes minyak atsiri dengan 10 ml air. Rasa diperiksa dengan mencampur satu tetes minyak atsiri dengan 2 gram gula.

Contoh-contoh minyak atsiri :

1. Oleum foeniculi (minyak adas)
2. Oleum Anisi (minyak adas manis)
3. Oleum Caryophylli (minyak cengkeh)
4. Oleum Citri (minyak jeruk)
5. Oleum Aurantii (minyak jeruk manis)
6. Oleum Rosae ( minyak mawar)
7. Oleum Menthae piperitae (minyak permen)
8. Oleum Cinnamommi ( minyak kayu manis)
9. Oleum Citronellae ( minyak sereh)
10. Oleum Eucalypti (minyak kayu putih)


g. Syrup (Sirupi)
Adalah sediaan cair berupa larutan yang mengandung sakarosa. Kadar sakarosa (C12 H22 O11) tidak kurang dari 64% dan tidak lebih dari 66%.
Cara pembuatan sirup :
Buat cairan untuk sirup, panaskan, tambahkan gula, jika perlu didihkan hingga larut. Tambahkan air mendidih secukupnya hingga diperoleh bobot yang dikehendaki, buang busa yang terjadi, serkai.
Cairan untuk sirup, kedalam mana gulanya akan dilarutkan dapat dibuat dari :
1. Aqua destilata : untuk sirupus simplex.
2. Hasil-hasil penarikan dari bahan dasar :
a. maserat misalnya sirupus Rhei
b. perkolat misalnya sirupus Cinnamomi
c. colatura misalnya sirupus Senae
d. sari buah misalnya rubi idaei
3. Larutan atau campuran larutan bahan obat misalnya : methydilazina hydrochloridi sirupus, sirup-sirup dengan nama patent misalnya yang mengandung campuran vitamin.

Beberapa catatan :
• Pada pembuatan sirup dari simplisia yang mengandung glikosida antrakinon di tambahkan Na2CO3 sejumlah 10% bobot simplisia.
• Kecuali dinyatakan lain, pada pembuatan sirup simplisia untuk persediaan ditambahkan metil paraben 0,25 % b/v atau pengawet lain yang cocok.
• Kadar gula dalam sirup pada suhu kamar maksimum 66 % sakarosa, bila lebih tinggi akan terjadi pengkristalan, tetapi bila lebih rendah dari 62 % sirup akan membusuk.
• Bj sirup kira-kira 1,3
• Pada penyimpanan dapat terjadi inversi dari sakarosa ( pecah menjadi glukosa dan fruktosa ) dan bila sirup yang bereaksi asam inversi dapat terjadi lebih cepat.
• Pemanasan sebaiknya dihindari karena pemanasan akan menyebabkan terjadinya gula invert.
• Gula invert adalah gula yang terjadi karena penguraian sakarosa yang memutar bidang polarisasi kekiri.
• Gula invert tidak dikehendaki dalam sirup karena lebih encer sehingga mudah berjamur dan berwarna tua ( terbentuk karamel ), tetapi mencegah terjadinya oksidasi dari bahan obat.
• Pada sirup yang mengandung sakarosa 62 % atau lebih, sirup tidak dapat ditumbuhi jamur, meskipun jamur tidak mati.
• Bila kadar sakarosa turun karena inversi, maka jamur dapat tumbuh. Bila dalam resep, sirup diencerkan dengan air dapat pula ditumbuhi jamur.
• Untuk mencegah sirup tidak menjadi busuk, dapat ditambahkan bahan pengawet misalnya nipagin.
• Kadang-kadang gula invert dikehendaki adanya misalnya dalam pembuatan sirupus Iodeti ferrosi.
Hal ini disebabkan karena sirup merupakan media yang mereduksi, mencegah bentuk ferro menjadi bentuk ferri.
Gula invert disini dipercepat pembuatannya dengan memanaskan larutan gula dengan asam sitrat.
• Bila cairan hasil sarian mengandung zat yang mudah menguap maka sakarosa dilarutkan dengan pemanasan lemah dan dalam botol yang tertutup, seperti pada pembuatan Thymi sirupus dan Thymi compositus sirupus, aurantii corticis sirupus. Untuk cinnamomi sirupus sakarosa dilarutkan tanpa pemanasan.
• Maksud menyerkai pada sirup adalah untuk memperoleh sirup yang jernih.
Ada beberapa cara menjernihkan sirup :
1. Menambahkan kocokan zat putih telur segar pada sirup . Didihkan sambil diaduk, zat putih telur akan menggumpal karena panas.
2. Menambahkan bubur kertas saring lalu didihkan dan saring kotoran sirup akan melekat ke kertas saring.




Cara memasukkan sirup ke dalam botol :
Penting untuk kestabilan sirup dalam penyimpanan, supaya awet (tidak berjamur ) sebaiknya sirup disimpan dengan cara :
1. Sirup yang sudah dingin disimpan dalam wadah yang kering. Tetapi pada pendinginan ada kemungkinan terjadinya cemaran sehingga terjadi juga penjamuran.
2. Mengisikan sirup panas-panas kedalam botol panas ( karena sterilisasi ) sampai penuh sekali sehingga ketika disumbat dengan gabus terjadi sterilisasi sebagian gabusnya, lalu sumbat gabus dicelup dalam lelehan parafin solidum yang menyebabkan sirup terlindung dari pengotoran udara luar.
3. Sterilisasi sirup, disini harus diperhitungkan pemanasan 30 menit apakah tidak berakibat terjadinya gula invert.
Maka untuk kestabilan sirup, FI III juga menuliskan tentang panambahan metil paraben 0,25% atau pengawet lain yang cocok.
Dari ketiga cara memasukkan sirup ke dalam botol ini yang terbaik adalah cara ketiga.
Dalam ilmu farmasi sirup banyak digunakan karena dapat berfungsi sebagai :
1. Obat, misalnya : chlorfeniramini maleatis sirupus.
2. Corigensia saporis, misalnya : sirupus simplex
Corigensia odoris, misalnya : sirupus aurantii
Corigensia coloris, misalnya : sirupus Rhoedos, sirupus rubi idaei
3. Pengawet, misalnya sediaan dengan bahan pembawa sirup karena konsentrasi gula yang tinggi mencegah pertumbuhan bakteri.

Penyimpanan :
Dalam wadah tertutup rapat dan di tempat sejuk.






Penetapan kadar sakarosa :
• Timbang seksama + 25 gram sirup dalam labu terukur 100 ml, tambahkan 50 ml air dan sedikit larutan Aluminium hidroksida p. Tambahkan larutan timbal ( II ) sub asetat p tetes demi tetes hingga tetes terakhir tidak menimbulkan kekeruhan.
• Tambahkan air secukupnya hingga 100,0 ml saring, buang 10 ml filtrat pertama. Masukkan + 45,0 ml filtrat kedalam labu tentukur 50 ml, tambahkan campuran 79 bagian volume asam klorida p dan 21 bagian vol. Air secukupnya hingga 50,0 ml. Panaskan labu dalam tangas air pada suhu antara 68 o dan 70 oC selama 10 menit, dinginkan dengan cepat sehingga suhu lebih kurang 20 oC.
• Jika perlu hilangkan warna dengan menggunakan tidak lebih dari 100 mg arang penyerap.
• Ukur rotasi optik larutan yang belum di inversi dan sesudah inversi menggunakan tabung 22,0 cm pada suhu pengukur yang sama antara 10 o dan 25 o C. Hitung kadar dalam %, C12H22O11 dengan rumus :

300 x (1 - 2)
C =
(144 – 0,5 t)

C = Kadar sacharosa dalam %
1 = Rotasi optik larutan yang belum di inversi
2 = Rotasi optik larutan yang sudah di inversi
t = Suhu pengukuran

Contoh-contoh Sediaan Sirup :
1. Ferrosi Iodidi Sirupus
2. Sirupus Simplex = Sirup Gula
3. Auranti Sirupi = Sirup Jeruk Manis
4. Sirupus Thymi = Sirup Thymi



Sirup-sirup yang tercantum dalam FI ed III :
a. Chlorpheniramini maleatis sirupus
b. Cyproheptadini hydrochloridi sirupus
c. Dextrometorphani hydrobromidi sirupus
d. Piperazini citratis sirupus
e. Prometazini hydrochloridi sirupus
f. Methidilazini hydrochloridi sirupus
g. Sirupus simplex

Dalam perdagangan dikenal “dry syrup” yaitu syrup berbentuk kering yang kalau akan dipakai ditambahkan sejumlah pelarut tertentu atau aqua destilata, biasanya berisi zat yang tidak stabil dalam suasana berair.

h. Spirtus Aromatici
Spiritus aromatici dibuat dengan maserasi sejumlah simplisia dengan campuran sejumlah etanol dan air selama 24 jam. Masterat lalu di destilasi sampai di peroleh 1000 bagian.
Kadar etanol Spiritus aromatici adalah 65% v/v.
Spiritus aromatici harus jernih tidak boleh berwarna, cairan berbau aroma dan berasa, yang mengandung hanya bagian yang mudah menguap tidak mengandung tannin dan harsa.
Pengenceran Spiritus aromatici dengan air akan menjadi keruh,karena minyak menguap yang di kandung kurang larut dalam air.
Dalam farmakope belanda terdapat sediaan, yaitu :
1. Spiritus aromaticus
Maserasi selama 24 jam Majoranae Herba,Cinamomi Cortex, Myristicae Semen, Caryopyllum dan Coriandry Fructus, dengan campuran Etanoldan Air.Dari cairan tersebut lalu si destilasihingga di peroleh 1000 bagian.
2. Spiritus Cinamommi
Maserasi selama 24 jam, sebruk Cinamommi Cortex dengan campuran Etanol dan Air. Dari cairan ini lalu di destilir hingga di peroleh 1000 bagian.

3. Spiritus Citri
Maserasi selama 24 jam, Citi Fructus Cortex segar dengan etanol. Lalu di destilasi dan akhirnya di destilasi dengan uap hingga di peroleh 1000 bagian.
4. Spiritus Cochlearie
Maserasi selama 24 jam, Cochlearie Herba dan Armoraciae Radix dengan campuran etanol dan air.lalu di destilir hingga di peroleh 1000 bagian.
5. Spiritus Lavandulae
Larutkan 1 bagian Olleum Lavandulae dalam 150 bagian etanol 90% v/v dan 49 bagian air.

Kamis, 31 Maret 2011

Modal Auxiliaries

Modals Auxiliaries

Modals are : can, could, may, might, must, ought to, shall, should, will, would and need (need can be a full verb, too).

Example :

We can play football.

We could play football.

We may play football.

We might play football.

We must play football.

We mustn't play football.

We needn't play football.

We ought to play football.

We shall play football.

We should play football.

We will play football.

We would play football.

Note:

1)

Do not use modals for things which happen definitely.

The sun rises in the East.

2)

They do not have an -s in the 3rd person singular.

He can play football.

3)

Questions are formed without do/does/did.

Can he speak Spanish?

4)

It follows a full verb in the infinitive.

They must read the book.

5)

There are no past forms (except could and would).

He was allowed to watch the film.

6)

When you use the past particple, you tell about things which did not happen in the past.

You should have told me.

Form :

positive

negative

long form

contracted form

long form

contracted form

can

- -

cannot

can't

could

- -

could not

couldn't

may

- -

may not

- -

might

- -

might not

- -

ought to

- -

ought not to

oughtn't to

- -

- -

need not

needn't

shall

'll

shall not

shan't

should

'd

- -

shouldn't

will

'll

will not

won't

would

'd

would not

wouldn't

The short forms 's and 'd have two different long forms:

he's = he is oder he has

he'd = he would oder he had

We seldom use short forms after names and nouns.

Peter has got a book. = Peter's got a book.

The children have visited London. = The children've visited London.

When have is a full verb, we do not use the short form.

They have breakfast at 6 o'clock.

Untuk penjelasan lebih jelas, yang termasuk dalam Modal auxiliary adalah sebagai berikut :

1) Can

Be able to bisa, sanggup. Can dapat digunakan untuk menyatakan :

· Kesanggupan atau kemahiran seseorang

Contoh : he can lift the big box

· Menyatakan izin

Contoh : you can go home now

· Menyatakan kemungkinan

Bentuk umum dari can adalah :

1. Subject + can + be + complementary (adj, noun, adv)

Contoh :

We can be clever.

You can be sick.

They can be present.

2. Subject + can + verb + object

Contoh :

We can speak english.

You can see me tomorrow.

They can finish the work on time.

Use

Examples

ability to do sth. in the present (substitute form: to be able to)

I can speak English.

permission to do sth. in the present (substitute form: to be allowed to)

Can I go to the cinema?

request

Can you wait a moment, please?

offer

I can lend you my car till tomorrow.

suggestion

Can we visit Grandma at the weekend?

possibility

It can get very hot in Arizona.

- Can, to be able to, to be allowed to

We often use to be able to or to be allowed to instead of "can". We can only form the Past of "can" (could). To put "can" into other tenses we need the phrases to be able to or to be allowed to.

Affirmative sentences :

Tense

Modal

Form

Simple Present

I can play football.

I am able to play football.
I'm able to play football.

I am allowed to play football.
I'm allowed to play football.

Simple Past

I could play football.

I was able to play football.

I was allowed to play football.

will-future

Do not use can in the will-future.

I will be able to play football.
I'll be able to play football.

I will be allowed to play football.
I'll be allowed to play football.

Other possible tenses:
e.g. Present Perfect: I have been able to play football.

Negations :

Tense

Modal

Form

Simple Present

I cannot play football.
I can't play football.

I am not able to play football.
I'm not able to play football.

I am not allowed to play football.
I'm not allowed to play football.

Simple Past

I could not play football.
I couldn't play football.

I was not able to play football.
I wasn't able to play football.

I was not allowed to play football.
I wasn't allowed to play football.

will-future

Do not use cannot in the will-future.

I will not be able to play football.
I won't be able to play football.

I will not be allowed to play football.
I won't be allowed to play football.

Questions :

Tense

Modal

Form

Simple Present

Can he play football?

Is he able to play football?

Is he allowed to play football?

Simple Past

Could he play football?

Was he able to play football?

Was he allowed to play football?

will-future

Do not use can in the will-future.

Will he be able to play football?

Will he be allowed to play football?

2) Could

Be able to bolehkah. Could digunakan untuk menyatakan :

· Kemampuan dimasa lampau

Contoh : he could play volleyball when he was young

· Permintaan izin yang lebih formal

Contoh : could you helpme for a momment ?

· Kemungkinan yang ada namun belum diputuskan

Contoh : you could meet him in his home or his office

Bentuk umum dari could :

Subject + Could + verb

Kata kerja could dapat diganti dengan mengunakan kata to be + able to untuk menyatakan usaha keras untuk memperoleh sesuatu.

Contoh : I am able to pay him

Use

Examples

ability to do sth. in the past (substitute form: to be able to)

I could speak English.

permission to do sth. in the past (substitute form: to be allowed to)

I could go to the cinema.

polite question *

Could I go to the cinema, please?

polite request *

Could you wait a moment, please?

polite offer *

I could lend you my car till tomorrow.

polite suggestion *

Could we visit Grandma at the weekend?

possibility *

It could get very hot in Montana.

3) May

Have permission to boleh, meminta izin. May digunakan untuk menyatakan :

· permintaan dan izin

· suatu kemungkinan

· penolakan izin untu melakukan sesuatu jika digunakan dalam kaimat negatif

Contoh : the students may not smoke in te class

· mendoakan kondisi sesorang atau sesuatu

Bentuk umum dari may :

1. May + subject + verb + object + complement

Contoh:

May i see the picture now ?.

May we visit you tommorow ?.

May the join the meeting ?.

2. Subject + May + verb + object (memberi ijin)

Contoh:
You may leave the room.

They may join the meeting

Use

Examples

possibility

It may rain today.

permission to do sth. in the present (substitute form: to be allowed to)

May I go to the cinema?

polite suggestion

May I help you?

- May - to be allowed to

We substitute "may" with "to be allowed to".

Affirmative sentences :

Tense

Modal

Form

Simple Present

I may play football.

I am allowed to play football.
I'm allowed to play football.

Simple Past

Do not use may in the Simple Past.

I was allowed to play football.

will-future

Do not use may in the will-future.

I will be allowed to play football.
I'll be allowed to play football.

There are also other tenses possible:

e.g. Present Perfect: I have been allowed to play football.

Negations :

Tense

Modal

Form

Simple Present

I may not play football.

I am not allowed to play football.
I'm not allowed to play football.

Simple Past

Do not use may not in the Simple Past.

I was not allowed to play football.
I wasn't allowed to play football.

will-future

Do not use may not in the will-future.

I will not be allowed to play football.
I won't be allowed to play football.

Questions

Tense

Modal

Form

Simple Present

May he play football.

Is he allowed to play football?

Simple Past

Do not use may in the Simple Past.

Was he allowed to play football?

will-future

Do not use may in the will-future.

Will he be allowed to play football?

4) Might

Possibility mungkin, kemungkinan. Might digunakan untuk :

· kalimat tidak langsung

· kemungkinan yang lebih lemah dari may

Contoh : she might come last night

· izin yang lebih halus dari may

Contoh : might I know your name ?

Bentuk umum penggunaan might :

Subject + Might + verb + complement

Contoh:

§ Linda goes to that bulding every morning. She might be a worker there.

§ Boby wants to buy a book. He might go to a bookstore.

§ Burhan is not at home. He might go to his office.

Use

Examples

possibility (less possible than may)

It might rain today.

hesitant offer

Might I help you?

5) Must

Have to harus, musti, pasti.( Bisa digunakan untuk kal present dan future).

Must digunakan untuk menyatakan :

· suatu keharusan

Contoh : I must do my homework

· kemungkinan yang kuat

· sutu larangan, digunakan apabila digunakan dalam kalimat negatif

Contoh : she musn't do that

Bentuk umum penggunaan Must :

Subject + Must + verb + object + complement

Example:

§ Rio is from Indonesian. She must speak indonesian well.

§ Jenny can play piano well. She must practice a lot.

Use

Examples

force, necessity

I must go to the supermarket today.

possibility

You must be tired.

advice, recommendation

You must see the new film with Brad Pitt.

- Must - to have to

We substitute "must" with "to have to".

Be careful: The negation of must means not allowed to.

Affirmative sentences :

Tense

Modal

Form

Simple Present

I must play football.

I have to play football.

Simple Past

Do not use must in the Simple Past.

I had to play football.

will-future

Do not use must in the will-future.

I will have to play football.

Negations :

Tense


Modal

Form

Simple Present

1

I must not play football.
I mustn't play football.

I am not allowed to play football.

I'm not allowed to play football.

2

I need not play football.
I needn't play football.

I do not have to play football.

I don't have to play football.

3

I do not need to play football.
I don't need to play football.

Simple Past

1

Do not use must not in the Simple Past.

I was not allowed to play football.

I wasn't allowed to play football.

2

Do not use need not in the Simple Past.

I did not have to play football

I didn't have to play football.

3

I did not need to play football.
I didn't need to play football.

will-future

1

Do not use must not in the will-future.

I will not be allowed to play football.

I won't be allowed to play football.

2

Do not use need not in the will-future.

I will not have to play football.

I won't have to play football.

3

I will not need to play football.
I won't need to play football.

Questions :

Tense

Modal

Form

Simple Present

4

Must he play football?

Does he have to play football?

5

Does he need to play football?

Simple Past

4

Do not use must in the Simple Past.

Did he have to play football?

5

Did he need to play football?

will-future

4

Do not use must in the will-future.

Will he have to play football?

5

Will he need to play football?

6) Need not

Use

Examples

not necessary

I needn't go to the supermarket, we're going to the restaurant tonight.

7) Must not/may not

Use

Examples

prohibition

You mustn't work on dad's computer.
You may not work on dad's computer.

8) Shall

Instead of will in the 1st person

Use

Examples

suggestion

Shall I carry your bag?

9) Should

Ought to sebaiknya, seharusnya. Should digunakan untuk menyatakan :

§ perintah yang tidak terlaksana

Contoh : you should have recieved my letter

§ anjuran atau nasehat

Contoh : we should take a rest

§ kemungkinan yang tidak terjadi

Contoh : we should obey our parents

Bentuk umum dari penggunaan should :

Subject + Should + verb + complement

Contoh:

§ She should do well on the test.

§ The lady should take medicine and rest.

Use

Examples

advice

You should drive carefully in bad weather.

obligation

You should switch off the light when you leave the room.

10) Will

Be going to akan. Will digunakan untuk menyatakan :

· kegiatan yang akan terjadi

Contoh : I will go to Semarang tomorrow

· kemauan
Contoh : I will help you

· kebenaran abadi

Contoh : Stone will sink in the water

· permintaan secara halus

Contoh : Will you come in please ?

· janji atau tekad yang akan dilakukan

Contoh : I will ask her if I see her

Bentuk umum penggunaan will :

Subject + will + verb + object + complement

Will + subject + verb + object + complement ?

Contoh:

§ He will be here at 6:00 (future only)

§ Will you please pass the salt ?

Use

Examples

wish, request, demand, order (less polite than would)

Will you please shut the door?

prediction, assumption

I think it will rain on Friday.

promise

I will stop smoking.

spontaneous decision

Can somebody drive me to the station? - I will.

habits

She's strange, she'll sit for hours without talking.

11) Would

Use

Examples

wish, request (more polite than will)

Would you shut the door, please?

habits in the past

Sometimes he would bring me some flowers.

* no past forms - future forms

12) Ought to

Use

Examples

advice

You ought to drive carefully in bad weather.

obligation

You ought to switch off the light when you leave the room.